Minggu, 15 Juni 2014

Universalitas Islam | oleh Bang Yusuf

Salah satu karakteristik Islam yang ditulis oleh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya adalah syumul yang berarti universal.

As-Syahid Syeikh Hasan Al-Banna mengatakan, “Islam adalah risalah yang panjang membentang meliputi semua zaman, terhampar luas hingga meliputi seluruh ummat, dan begitu mendetail hingga memuat seluruh urusan dunia dan juga akhirat.”
Dalam buku Karakteristik Islam, Kajian Analitik yang ditulisnya, Dr. Yusuf Al-Qardhawi membagi pembahasan syumul ke dalam banyak sub-bagian. Namun abang akan coba bagi pembahasan syumul ke dalam tiga bagian saja ―berdasarkan keterangan yang diberikan oleh As-Syahid Syeikh Hasan Al-Banna―.

Risalah bagi Seluruh Rentang Zaman

Nabi dan Rasul sebelum Muhammad SAW diutus untuk periode tertentu ―yang berakhir setelah Rasul berikutnya ditunjuk―. Sedangkan Rasulullah SAW, sebagai khatamul nabiyyin (penutup para nabi), membawa risalah yang abadi hingga hamparan tikar dunia ini digulung kembali. Risalah itu adalah Al-Islam.
Namun, secara substansial, seluruh Nabi dan Rasul sebelum Muhammad SAW, membawa risalah yang sebenarnya sama dengan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

“Dan kami tidak mengutus seorang Rasul-pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tiada Illah selain Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Al-Anbiya : 25)
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’.” (An-Nahl : 36)
Masih ada banyak sekali potongan ayat yang berbunyi serupa dengan kedua ayat di atas. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Islam adalah risalah yang mencakup seluruh zaman, mulai dari zaman nabi Adam hingga hari kiamat nanti.

Seandainya mempunyai risalah yang notabene sama, lalu mengapa para Nabi harus ditutup oleh Nabi Muhammad SAW? Mengapa kita tidak hanya memiliki satu Nabi saja, yaitu Adam AS?
Ingatkah kita bagaimana Iblis dan Setan mewujudkan diri mereka saat menggoda Adam AS, Siti Hawa, Habil dan Qabil. Lalu mengapa kini mereka bersembunyi dan seperti enggan menunjukkan wujud mereka seperti layaknya di zaman Adam AS?

Bila Iblis dan Setan mewujudkan diri mereka di zaman ini, tentu kita akan menjalankan Islam secara kaffah ―yang ngegodanya aja keliatan―. Yang ada, Iblis dan pasukannya akan kita ‘bully’ ramai-ramai setiap kali mencoba untuk menggoda kita. #BedaZamanMasBro

Begitu pula dengan jenis godaan setan, permasalahan, dan juga ujian yang Allah berikan. Semuanya berbeda di setiap periode kenabian.

Al-Ustadz Agus Subagio Al-Hafizh pernah mengatakan, “Setelah Nabi Muhammad SAW tidak akan ada lagi Nabi dan Rasul, karena permasalahan yang dihadapi oleh ummat Muhammad SAW merupakan permasalahan yang paling kompleks dibandingkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Nabi-Nabi sebelumnya.”
Bila Nabi Luth diuji dengan permasalahan kaum Sodom dan Gomorah yang homo seks. Jika Nabi Musa dan Harun diuji dengan pemimpin yang zalim bernama Fir’aun. Maka ummat Muhammad SAW diuji dengan seluruh jenis ujian yang meliputi setiap permasalahan yang dihadapi oleh Nabi-Nabi pendahulu.

Sekarang ini, kita dapat melihat bagaimana seks bebas menjadi budaya. LGBT dilabeli hak azazi manusia. Anak-anak yang durhaka pada orang tuanya. Orang tua yang menelantarkan anak-anak mereka. Pembantaian yang dilakukan manusia terhadap manusia. Pemimpin yang zalim, tidak amanah dan gemar berpesta pora. Dan masih banyak lagi permasalahan yang hadir di tengah-tengah kita saat ini.

Setan kini sudah mengekspose seluruh kelemahan yang dimiliki oleh manusia dan sudah menemukan seluruh celah yang dapat menjebloskan manusia ke dalam api neraka. Celah yang Allah SWT sengaja sediakan untuk menguji kita. Untuk melihat apakah kita benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Risalah bagi Seluruh Ummat Manusia

Islam adalah risalah yang diperuntukkan untuk seluruh ras, golongan, dan status sosial.

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.” (Al-Anbiya : 107)
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi peringatan bagi seluruh alam.” (Al-Furqan : 1)
“Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (Shaad : 87)
Beberapa orang menyebarkan fitnah dengan mengatakan bahwa Muhammad SAW ‘mengarang’ ayat-ayat di atas karena dia melihat bangsa Arab mulai memenangkan peperangan demi peperangan. Padahal sebelumnya, Islam hanya diperuntukkan untuk bangsa Arab saja.

Namun, dugaan itu sungguh tidak mendasar. Karena masih banyak sekali ayat serupa yang Allah SWT turunkan pada awal periode kenabian, bahkan sebelum ummat Islam mulai berperang.

Universalitas Islam bagi seluruh ras sudah terbukti dengan jelas saat ini. Islam adalah agama terbesar kedua sedunia setelah Nasrani, agama pendahulu yang berusia tujuh abad lebih tua ―yang sebenarnya sudah kadaluarsa dan banyak terkontaminasi tangan orang-orang zalim―.

Islam adalah agama yang dapat membelai hati manusia di manapun. Tidak peduli apa ras mereka, bagaimana rupa mereka, dan apapun warna kulit mereka.

Al-Hafizh Abu Sulaiman Al-Awwab pernah berkata, “Saat Jibril menurunkan Al-Qur’an, Rasulullah meminta Jibril mencontohkan beberapa cara pembacaan yang berbeda hingga turunlah Al-Qur’an dalam sepuluh cara pembacaan.”
Sehingga Al-Qur’an dapat disesuaikan dengan lidah setiap ras di dunia. Indonesia sendiri menganut mazhab Al-Hafs, sama dengan mayoritas Negara di jazirah Arab. Namun bila kita ke Afrika, kita akan menemukan cara pembacaan dan penulisan tanda baca Al-Qur’an yang berbeda dengan kita.

Pada suatu kesempatan, Ustadz Agus Subagio pernah berkata, “Al-Hafizh, sebenarnya bukan gelar yang diberikan saat seseorang selesai ziyadah (menambah hafalan) hingga 30 Juz. Seseorang baru berhak mendapatkan gelar Al-Hafizh setelah mereka berhasil menghafalkan Al-Qur’an dalam seluruh tata cara pembacaan. Yang berarti, sudah berhasil menghafal Al-Qur’an sebanyak 300 Juz.”
Saat kami, murid-muridnya menghela nafas panjang ―karena terbayangkan betapa sulitnya meraih predikat Hafizh―, beliau lanjut berkata, “tapi bila gelar itu sudah diberikan walau kita baru menghafal cara membaca Al-Hafs, kita terima saja.” Beliau pun lalu bercanda, “Anggap saja gelar Al-Hafizh itu merupakan singkatan dari Al-Hafizhul Hafs (Al-Hafizh untuk mazhab Al-Hafs saja).”
Beberapa kali Ustadz Agus Subagio Al-Hafizh, Ustadz Yasroni Al-Hafizh, Ustadz Sucipto Al-Hafizh, Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafizh, Ustadz Jafar Sidiq Al-Hafizh menegaskan dalam bahasa yang berbeda-beda. Bahwasanya gelar Al-Hafizh hanya merupakan gelar di dunia saja. Tasmi’ yang sesungguhnya akan terjadi di Padang Mahsyar dan didengarkan langsung oleh Allah SWT. Dan gelar yang coba kita raih tidak lain adalah Ahlul Qur’an.

Kekayaan tata cara pembacaan Al-Qur’an yang disebutkan barusan, tentu sudah membuktikan pada kita bahwasanya Al-Qur’an memang diperuntukkan untuk seluruh ras dengan lidah, aksen dan tata bahasa yang berbeda-beda. Tanpa mengubah makna dan bahasa asli dari Al-Qur’an itu sendiri.

Islam juga merupakan risalah yang diperuntukkan untuk segala golongan sosial karena Islam tidak memandang status sosial, kekayaan dan bahkan tahta seseorang. Tertutupnya mata Islam pada status sosial jugalah yang menyebabkan pemuka kaum kafir Quraisy menentang ajaran Islam. Mereka merasakan keindahan dan kelembutan sentuhan Islam, namun di sisi lain, mereka takut kehilangan kemegahan dunia mereka.

Si miskin yang datang di awal waktu, tetap berhak di saf pertama saat Shalat dan memperoleh pahala lebih besar daripada si kaya yang datang terlambat dan salat di saf belakang. Si budak yang bersedekah dengan susah payah walaupun jumlahnya sedikit tetap lebih mulia di mata Allah bila dibandingkan dengan si kaya yang bersedekah dengan jumlah besar namun terasa ringan baginya.

Di depan kacamata Islam, tak ada kaya, tak ada miskin. Tak ada budak, tak ada tuan. Tak ada boss, tak ada karyawan. Tak ada pejabat, tak ada rakyat. Semua manusia berderajat sama, yaitu hamba bagi Tuhan sekalian alam, Allah SWT.

Risalah bagi Seluruh Urusan Manusia

Dr.Yusuf Al-Qardhawi menegaskan, “Tidak ada satu jedapun dalam kehidupan manusia dimana Islam tidak mengaturnya.”
Sejak dalam kandungan, lahir ke dunia, remaja, dewasa, menjadi tua, bahkan hingga ruh meninggalkan jasad, Islam telah mengatur semuanya.

Lihatlah bagaimana Islam mengatur agar Ibu menjaga asupan gizi janin-nya dengan melarang berpuasa. Memerintahkan ayah mengumandangkan adzan sesaat setelah sang anak terlahir ke dunia. Lihatlah bagaimana Islam mengatur kita agar mentarkibkan lafadz Laa Illaha Illallah kepada seseorang yang sedang sakaratul maut. Mengatur cara memandikan mayat hingga cara memposisikan jenazah di dalam kubur.
Risalah Islam mengatur segalanya. Bahkan hingga hal sepele seperti cebok, bersin dan juga kentut.
Mari kita renungkan bersama. Sekiranya siapakah yang mampu membuat aturan yang begitu mendetail terkecuali Dia yang menciptakan kita. Seperti halnya dengan seorang ahli robot yang mengatur cara kerja robot-robotnya.

Ustadz Ozi dalam satu kesempatan mengatakan bahwa, “Melaksanakan Islam secara kaffah laksana menanam padi. Jika menanam padi, sudah dipastikan rumput akan tumbuh. Namun bila kita menanam rumput, mungkinkah padi akan tumbuh?”
Begitulah hubungan risalah Islam dengan urusan akhirat dan dunia.

Sudah cukup kita mengetahui bagaimana Allah mengatur urusan akhirat kita. Sekarang mari kita lihat bagaimana risalah Islam mengatur urusan dunia kita tanpa memisahkannya dari urusan akhirat.

Seperti yang sudah abang tegaskan di bagian sebelumnya, Islam tidak memandang kaya, miskin, derajat, dan kasta. Semua orang dipandang sama, dengan diberikan modal yang sama, yaitu waktu sebanyak 24 jam dalam sehari.

Berkali-kali Allah bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur’an. Wal Ashri, demi waktu Ashar. Wal-Laili, demi waktu malam. Wad-Duha, demi waktu Duha. Dan masih banyak lagi sumpah-sumpah Allah yang diucapkan atas nama waktu.

Lalu bagaimana dengan umur, kekayaan, dan kepintaran (IQ)? Bukankah itu juga merupakan modal yang Allah berikan, bukankah itu berarti semua orang memiliki modal yang berbeda-beda?

Dalam Islam, semua itu hanyalah ujian yang Allah berikan kepada makhluk-Nya.

Bukanlah muslim yang baik bila dia diberikan kekayaan namun menjadi sombong dan lupa diri. Bukanlah muslim yang baik bila dia diberikan kemiskinan namun menjadi kufur dan terlihat lemah. Bukanlah seorang  muslim yang baik bila dia diberikan kepintaran lalu dia bermalas-malasan. Bukanlah seorang muslim yang baik jika dia diberikan keterbatasan daya tangkap lalu pesimis dan menerima saja saat dibodohi oleh orang lain.

Muslim yang baik adalah muslim yang dapat memanfaatkan seluruh modal waktu yang telah Allah berikan kepadanya. Allah SWT yang berhak atas semua hasil yang diraih manusia. Sedangkan manusia cukuplah fokus pada proses dan nilai usahanya. Karena nilai amalan setiap manusia terletak pada bagaimana mereka berusaha, dan bagaimana mereka memanfaatkan waktunya.

Cara memanfaatkan waktu hanyalah satu, beribadah kepada Allah SWT. Bekerja untuk keluarga adalah ibadah. Menjaga kesehatan adalah ibadah. Menjaga kebersihan adalah ibadah. Berhemat dan menabung adalah beribadah. Bersosial masyarakat adalah ibadah.

Selama semua itu dilakukan dengan niat yang benar, dan dengan cara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, niscaya Allah akan menilai semua itu menjadi ibadah pada Allah SWT.

Untuk apa kita sibuk memikirkan kapan kita kaya, bagaimana kita bisa menjadi pintar atau apakah kita dapat mencapai targetan kita tepat pada waktunya. Karena itu bukanlah urusan kita yang lemah ini.
Fokuslah pada Ibadah dan pemanfaatan waktu kita, niscaya seluruh ‘kenikmatan’ dunia akan datang pada kita. Dan saat ‘kenikmatan’ itu datang, ‘buanglah’ segera ‘kenikmatan’ itu dari pikiran kita. Lalu kembali fokuslah pada modal yang telah Allah berikan dan niatan kita. Maka niscaya, lebih banyak ‘kenikmatan’ dunia lain yang akan mendatangi kita.

Ada banyak orang yang berprasangka buruk dan mengatakan bila berlama-lama di Masjid atau berlama-lama di hadapan lembaran Al-Qur’an adalah kegiatan percuma yang membuang urusan dunianya. Demi Allah! Tidak! Berlama-lama beribadah adalah salah satu cara bagi manusia untuk memanfaatkan tali waktu yang dimilikinya.

Jawablah dengan mengerahkan logika hati dan pikiran kita! Lebih baik mana? Membaca Al-Qur’an satu jam, atau menonton sinetron selama satu jam?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar