Minggu, 15 Juni 2014

Why Islam? | oleh BangYusuf

Tidak satu ataupun dua kali seseorang mendebat abang mengenai hukum-hukum Islam. Bahkan tidak jarang mereka dengan mudahnya mengeluarkan dalil-dalil andalan mereka. Sebenarnya abang tidak masalah dengan itu.

Namun sayangnya, di tengah pengetahuan mengenai agama yang berjibun, mereka semua tetap terkesan setengah hati dalam menjalankan ajaran Islam yang jelas-jelas mereka pahami ―katanya sih mereka yakini―.

Ustadz Felix Siauw pernah mengatakan, “Tidak sedikit orang yang sudah mengerti Islam dan mengetahui bagaimana cara menjalankan Islam dengan benar, what and how, namun sayangnya, mereka semua seperti tidak mengetahui alasan mengapa mereka kini beragama Islam, why.”
Coba kita telusuri rubrik-rubrik pembahasan Al-Islam di Internet. Atau coba kita nyalakan televisi dan radio di rumah kita untuk mendengarkan taujih-taujih tentang Islam. Adakah salah satu dari mereka yang berhasil memberikan kita alasan mengapa kita harus ber-islam secara kaffah.

Abang seringkali mendengar sindiran yang kira-kira berbunyi seperti ini, “Aneh sama Ibu-Ibu, pengajian aja hampir setiap hari, tapi ngegosipnya masih rajin. Malah liat tuh Pak Fulan judi bolanya aja masih rajin.”
Begitulah Islam di Negara kita tercinta, Indonesia. Islam di Indonesia hanya menjadi budaya, hanya menjadi keyakinan nenek moyang. Ajaran Islam hanya kita masukkan ke dalam tempurung kepala kita dan bukan ke dalam hati kita. Mayoritas dari kita gagal mencintai Islam. Karena bagi kita Islam tidak lebih dari status di dalam KTP.

Hampir setiap kali abang diberi kesempatan untuk berbicara, abang selalu menegaskan kalau Islam bukan hanya satu kata yang tertera di akta kelahiran, passport atau KTP. Islam itu seharusnya berada di dalam dada kita, di perbuatan kita.

Mengenai keislaman seseorang, bukan manusia yang berhak menilai, melainkan hanya Allah SWT.

Maaf, setahu abang, hanya sedikit ustadz-ustadz yang benar-benar memberikan kita variabel why dalam tausyiah mereka. Kalau boleh abang sebutkan, hanya ustadz-ustadz dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), Hafizhul Da’i, dan juga hanya beberapa Ustadz dari Muhammadiyah, Persis, serta Salafi sajalah yang  tausyiah-nya seringkali menyinggung variabel why tersebut.

Note : Silahkan masukkan di kolom komentar kalau ada ustadz lain yang pembaca tahu kerap memberikan variabel why dalam ceramahnya ―buat masuk-kan abang juga―.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar